Langsung ke konten utama

Apa yang Sebenarnya Saya Inginkan?

Begitu jauh rasanya masa yang telah saya lewati. Segala macam hal saya temui, kadang menyenangkan, kadang menyakitkan. Wajar memang. Namanya juga hidup di dunia. Hidup di dunia memang selalu ada suka dan duka. Kalau bicara soal umur, hitungan umur saya sudah bertambah satu tahun lagi di bulan ini.

Melihat ke belakang sejenak, untuk mengetahui apa saja yang telah saya lewati. Saya ingat awal dulu kuliah. Menjalani hidup dengan penuh ketidaktahuan (bukan berarti saya adalah orang yang serba tahu sekarang), sibuk ngurus kuliah, sempat keteteran, kehilangan arah, dan berpikir, jika prestasi saya seperti ini terus, apa yang bisa saya jadikan pegangan hidup kelak? Suatu saat persaingan merebut peluang kerja akan semakin ketat. Sedang saya hanya memiliki prestasi kuliah seperti ini saja. Bagaimana saya bisa bersaing dengan orang-orang yang memiliki prestasi yang tinggi? Minder juga jadinya.

Jadi bagaimana? Kebetulan menjelang tahun-tahun terakhir kuliah, ada seorang teman yang memberi saya cara pandang yang agak berbeda, bahwa nanti setelah menamatkan kuliah, kita tak mesti berkutat dengan yang namanya mencari lowongan kerja. Kita bisa membuat usaha sendiri, berwirausaha. Untuk yang memiliki modal sedikit pun tak masalah. Kita bisa sukses dengan mengikuti salah satu peluang bisnis yang hanya memerlukan modal relatif sedikit. Ehem..... Mulailah saya mengenal yang namanya Multi Level Marketing alias MLM.

Berbagai macam bisnis MLM mulai saya ikuti, mulai dari MLM yang murni, sampai yang MLM-MLMan yang ternyata cuma money game. Yah, orang seperti saya mungkin bukan tipe orang-orang MLM yang gigih memperjuangkan impiannya hingga kesuksesan diraih. Bahkan saya cenderung sekedar mencoba-coba dari satu MLM ke MLM yang lain, lalu dari satu money game ke money game yang lain. Wajar kalau saya tidak sukses :)

Akhirnya setelah menyelesaikan kuliah, saya pun mencari yang biasa dicari orang kebanyakan, yaitu lowongan pekerjaan. Dari mulai jadi pegawai kontrak di suatu konsultan konstruksi swasta, lalu pegawai outsourcing di bank, sudah saya lewati. Tahun ini, saya diterima sebagai salah satu calon pegawai di sebuah instansi negeri. Apakah pencarian saya sudah berakhir? Sama sekali belum.....

Menjadi seorang pegawai mungkin bukan cita-cita tertinggi saya. Semua saya lakukan karena lebih cenderung kepada pikiran ‘apa kata orang?’ Apa kata orang kalau saya cuma jadi pengangguran, padahal udah capek-capek kuliah S1, di bidang teknik pula? Apa kata orang nanti kalau saya capek-capek berjuang jadi wirausahawan sukses, tapi ternyata nggak sukses-sukses? Apa kata orang begini? Apa kata orang begitu?

Kalau boleh saya bicara soal kata hati saya. Menjadi seorang pengusaha sukses mungkin lebih menyenangkan. Yang saya maksud di sini adalah seorang pengusaha sukses yang telah meraih passive income. Bebas finansial, bebas waktu. Tapi, entahlah, apa bisa saya meraih semua itu? Dan keragu-raguan membuat saya memilih jalan aman, menjadi pegawai.

Tunggu dulu..... Saya melihat sesuatu hal yang berbeda, yaitu internet. Kata orang di internet kita juga bisa meraih sumber penghasilan yang tak sedikit. Saya juga sudah mengenal istilah internet marketer pada masa-masa saya kuliah dulu. Sampai sekarang masih belum berhenti keinginan saya untuk meraih sesuatu dari sistem yang berjalan secara online itu. Ketertarikan saya bermula karena sistem bisnis online ini bersifat otomatis. Jadi tak mesti selalu kerja di depan komputer, karena sistem berjalan secara otomatis meski kita tidak sedang online, dan mampu menjangkau pasar yang sangat luas.

Bicara soal apa yang sebenarnya saya inginkan, mungkin ini adalah salah satunya, hingga saya rela menyisihkan waktu selain pekerjaan utama saat ini, untuk terpaku di depan desktop komputer, ketik sana ketik sini, menjelajahi dunia maya yang disebut internet. Mungkin..... Karena saya sendiri tak tahu persis apa yang akan terjadi nanti.....

Komentar

Tuan Muda Kalsel mengatakan…
Apa pun pekerjaan kita harus didasari dengan rasa suka, kalo nggak suka nggak bakalan sepenuh hati mengerjakan pekerjaan. Orang bilang: "My hobby is ma job", hobi bisa dijadikan sebagai pekerjaan, hoby nulis mungkin nanti bisa bikin buku yang bisa dijual, hobi olahraga volly, sepak bola mungkin bisa berusaha menajadi atlet, hobi internet dan komputer bisa pasang iklan di blog.

Salam sukses untuk Bang Rian......
ianz mengatakan…
@tuan muda kalsel, trims sobat, atas pencerahannya....
ketty husnia mengatakan…
lht postingan ini jd inget kh tmn sy, kt2 yg saya inget dr dia adlh :"tidak ada yang lebih baik selain org membayar kita karena hobi kita" atau dg kt lain do something what u like because it makes u comfort to express ur idea. mgkn ada baiknya ikuti kolom "rene suhardono" di blognya, his words will open u!keep spirit..
ianz mengatakan…
@kenia huwada, thanks banget buat usulannya........

Postingan populer dari blog ini

Membuat Blog Versi Mobile

Perkembangan teknologi yang sudah semakin pesat akhir-akhir ini telah semakin memanjakan para pemakainya, tak terkecuali teknologi internet. Akses internet yang dulunya sangat mahal sekarang menjadi lebih murah. Warung internet sudah menyebar ke mana-mana seperti virus. Bahkan mengakses internet sekarang dipermudah dengan adanya handphone yang menyediakan layanan akses internet secara mobile. Namun mengakses internet melalui hp memiliki kelemahan tersendiri

Dilema Smartphone

Ada dua hal yang sering jadi pertimbangan saya ketika ingin membeli sebuah handphone, yang pertama ukuran, yang kedua daya tahan baterai. Kedua-keduanya sangat sulit disatukan ketika saya ingin membeli smartphone. Kita sama-sama tahu kalau smartphone memiliki kemampuan yang luar biasa karena fitur-fitur dan aplikasi-aplikasi yang disediakan, antara lain aplikasi menonton video online, media sosial, instant messenger (whatsapp, telegram, line dll). Pada intinya aplikasi-aplikasi tersebut termasuk aplikasi yang paling sering menguras baterai. Smartphone jaman sekarang sudah banyak yang memiliki layar berukuran di atas 5 inchi. Bahkan yang paling banyak (mungkin paling laku) adalah yang berukuran di atas 6 inchi. Dulu smartphone berukuran 5 sampai 7 inchi sering diistilahkan sebagai phablet (gabungan antara phone dan tablet). Beberapa produsen smartphone dulu juga akan mengeluarkan seri smartphone berukuran phablet, tapi tak sedikit juga mengeluarkan seri smartphone di ukuran layar 5 in...

Global Warming dan Daratan di Bawah Permukaan Laut

Global warming..... Istilah ini mungkin sudah sangat sering kita dengar. Sebuah isu (yang dimaksud isu di sini bukannya gosip kayak yang di infotainment itu loh :) ) tentang terjadinya pemanasan di bumi kita yang meningkat cukup drastis dan mempengaruhi kehidupan kita dan lingkungan di sekitar kita. Suatu keadaan yang harus kita waspadai, karena ini menyangkut masa depan kita dan anak-cucu kita.